Si perempuan terus berjalan tanpa tujuan. Saat ini dia merasa hatinya hancur, sudah tak ada harapan, orang yang dia sayangi sepenuh hatinya telah membuangnya. Saat ini hidupnya telah berakhir pikirnya. Dia tak ingin kembali ke kamarnya, malas mendengar teman sekamarnya yang selalu menyalahkan kebodohannya karena memilih kekasih yang salah. Hidup adalah waktu yang terbuang sia-sia pikirnya. Segala makian berkecamuk di kepalanya. Tak ada lagi yang berarti baginya, dan di pikirannya hanya 'Mati' yang sepertinya menarik.
Si Perempuan terus berjalan hingga mendekati tengah malam. Tak sadar dia melalui perempatan jalan, saat puluhan kendaraan melaju kencang seiring dengan lampu hijau traffic light yang menyala. Saat itu pula Laki-laki ini berlari kencang untuk menariknya kembali ke trotoar, hingga mereka berdua jatuh terduduk di trotoar.
Si laki-laki berteriak kepada si perempuan, apakah dia gila atau bodoh. Si perempuan hanya tertawa sambil meneteskan air matanya, hingga menjadi tontonan orang sekitarnya. Si laki-laki dengan kesal pergi meninggalkan si perempuan. Tak tau apa yang ada di pikirannya, si perempuan bergegas mengikuti langkah laki-laki itu, hingga tepat di belakangnya.
Sambil mendengus, laki-laki itu bertanya apa mau perempuan itu. Si perempuan tidak menjawab, hanya terus mengikuti langkah laki-laki itu. Kemudian laki-laki itu memutuskan untuk duduk di bangku luar cafe yang saat itu sudah tutup. Si perempuan duduk disampingnya.
Si laki-laki bertanya, kenapa si perempuan mengikutinya. Si perempuan menjawab dia tidak tahu, tapi bagaimanapun si laki-laki telah menyelamatkan nyawanya. Dia hanya bergerak, dan dia tidak berpikir. Saat ini dia hanya merasa aman ada disamping si laki-laki.
Mereka kemudian mengobrol di tempat itu. Entah bagaimana, tapi mereka merasa nyaman berbagi cerita dan segala masalah mereka. Ternyata mereka sama-sama baru saja ditinggalkan oleh pasangan mereka. Mereka merasa sakit dan hancur. Menit demi menit, jam demi jam, mereka terus berbicara, hingga sinar pagi sedikit demi sedikit mengganti gelap. Dini hari berubah menjadi pagi, satu demi satu lampu-lampu mulai mati. Di pagi hari mereka dapat menertawakan air mata dan kesedihan mereka semalam. Senyum dan tawa mereka bermunculan di pagi ini. Di hangatnya pagi, mereka berpisah. Mereka sudah siap memulai sesuatu yang baru.
Kemudian hari berganti malam. Si perempuan berjalan dengan ringan. Senyum lebar tersungging di wajahnya. Si perempuan melewati jalan yang sama yang kemarin malam dia lewati. Pancaran lampu neon, etalase dan kerumunan orang yang melewatinya nampak semarak, membuat senyumnya terpancar lebih lebar lagi. Sambil berjalan, si perempuan bahkan bernyanyi-nyanyi kecil.
Hingga si perempuan tiba di perempatan saat dia diselamatkan si laki-laki. Terdiam dia di tempat itu sambil tersenyum. Si perempuan berdiri terdiam di tempat itu. Terdiam si perempuan bediri di tempat itu. Masih si perempuan terdiam berdiri di tempat itu. Perlahan senyumnya terasa berat, dan perlahan menghilang. Lama dia berdiri terdiam.
Perlahan dia melangkah. Dia melangkah di arah yang sama yang dia lalui semalam. Dengan lambat dia terus melangkah hingga tiba di tempat duduk yang sama kemarin malam. Duduklah si perempuan di tempat yang sama dengan kemarin malam. Terdiam si perempuan di tempat yang sama. Masih si perempuan duduk di tempat yang sama. Masih si perempuan duduk di tempat yang sama. Lama si perempuan duduk di tempat yang sama.
Kemudian dia memandang jembatan yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Perlahan si perempuan berjalan ke jembatan itu. Terdiam si perempuan memandang tempat parkir yang ada tepat di bawah jembatan itu. Si perempuan kemudian duduk di pinggiran jembatan itu. Kemudian si perempuan merentangkan kedua tangannya. Lebar dia merentangkan tangannya. Kemudian dia meloncat dari jembatan itu. Tidak ada tangan yang menariknya kembali ke atas jembatan. Tidak ada yang tiba-tiba muncul menyelamatkannya. Dan saat kepala si perempuan menghantam aspal tempat parkir itu, senyumnya sudah tidak dapat mengembang lagi. Sendiri dia terdiam di tempat parkir itu.
Di saat yang sama si laki-laki sedang menyesap kopi panasnya, menikmati malam, saat semua kesedihannya telah dia tinggalkan dibelakangnya.
No comments:
Post a Comment