Sunday, June 9, 2013

Onyezz's photostream

Onyezz - Apocalypse Grind Surabaya Nightmare 06Onyezz - Apocalypse Grind Surabaya Nightmare 05Onyezz - Apocalypse Grind Surabaya Nightmare 04Onyezz - Apocalypse Grind Surabaya Nightmare 01Onyezz - Apocalypse Grind Surabaya Nightmare 03Onyezz - Apocalypse Grind Surabaya Nightmare 02
Onyezz - bandung Sunset Rez

Putri dan Pemain Mandolin

Suatu ketika di sebuah kerajaan ada seorang putri cantik jelita. Sang putri sangat pandai, baik dan ramah. Semua rakyat sayang kepadanya, dan Sang Putri sangat peduli pada rakyatnya. Sang Putri sangat sayang kepada keluarganya, dan keluarganya sangat menjaga Sang Putri. 

Suatu hari ada seorang pemain mandolin datang ke kerajaan itu. Penampilan si pemain mandolin yang dari negara jauh terlihat asing di kerajaan itu. Akan tetapi permainan musik si pemain mandolin sangat indah dan riang hingga selalu membuat orang yang mendengarnya menari-nari. Keramahan dan keceriaan dari pemain mandolin ini membuat dia mudah berbaur dan dikenal penduduk kerajaan ini. Perlahan berita ini sampai terdengar oleh sang Putri.

Karena ingin tahu, sang Putri kemudian menyamar menggunakan pakaian yang biasa digunakan penduduk dan kemudian membaur. Dia pun menyaksikan dan menikmati permainan si pemain mandolin. Perlahan tanpa sadar dia semakin mendekat dengan tempat si pemain mandolin memainkan musik. Si pemain mandolin yang sedang asik memainkan musiknya kemudian terusik atas kehadiran seseorang wanita cantik yang sedang menyaksikan dia bermain. Tak perlu waktu lama bagi si pemain mandolin untuk jatuh cinta kepada sang Putri yang menyamar itu. Walaupun sang Putri kerap kali menunduk sambil menyaksikan permainan si pemain mandolin, tapi dia tidak bisa menyembunyikan kecantikan yang dimilikinya.

Beberapa saat kemudian setelah si pemain mandolin selesai dengan pertunjukannya, dia kemudian mengajak bicara sang Putri. Tanpa tahu siapa yang dia ajak bicara dia kemudian mengajak sang Putri berkenalan. Di tengah percakapan mereka, sang Putri perlahan tertarik kepada si pemain mandolin, dengan kepolosannya dan lelucon yang tak henti-henti membuat sang Putri tertawa lepas. Dan percakapan pertama mereka berlangsung hingga lewat tengah malam tanpa mereka sadari. Si pemain mandolin menawarkan diri untuk mengantarkan sang Putri pulang, akan tetapi sang Putri menolaknya (tentu saja karena dia dalam penyamaran menjadi rakyat biasa, dan menyembunyikan bahwa dia tinggal di Istana). Walaupun si pemain mandolin memaksanya tapi sang Putri bersikeras untuk pulang sendiri. Dengan berat hati si pemain mandolin merelakannya untuk pulang sendiri setelah diyainkan bahwa sang Putri akan baik-baik saja dan akan kembali esok hari untuk menyaksikan permainan si pemain mandolin lagi.

Keesokan harinya, sang Putri kembali menyaksikan penampilan si pemain mandolin, dan mereka kembali bercakap-cakap hingga lewat tengah malam. Dan keesokan harinya. Dan keesokan harinya. Hingga entah bagaimana dan kapan mulainya, mereka telah saling mencintai. Dan lama kelamaan si pemain mandolin pun mengetahui, bahwa kekasihnya ini adalah putri dari kerjaan itu. Walaupun status sang Putri telah diketahui, mereka tetap saling mencintai dan menjalani hubungannya, secara rahasia. Sebisa mungkin sang Putri tidak ingin keluarganya tahu tentang pemuda ini.

Saat hendak bertemu si pemain mandolin seringkali Sang Putri diantar oleh salah satu Kesatria dengan pangkat tertinggi dari kerajaan itu. Hanya untuk mengantar, menjaga keamanan Sang Putri saat keluar dari istana. Beliau adalah kesatria terpercaya Sang Raja, yang lahir dari keluarga bangsawan di kerajaan itu. Saat mengantar, Sang Kesatria akan menunggu di suatu tempat, dan saat hendak kembali, Sang Putri akan menemuinya di tempat tersebut. Akan tetapi diam-diam rupanya Sang Kesatria telah menaruh hati kepada Sang Putri. Untuk beberapa waktu, dia cukup nyaman mendengarkan cerita Sang Putri tentang kisahnya dengan si Pemain Mandolin. Akan tetapi lama kelamaan dia ingin memiliki Sang Putri untuk dirinya sendiri. Hingga dia melaporkan hubungan Sang Putri dengan si pemain mandolin. 

Raja yang merasa si pemain mandolin memiliki status sosial yang jauh di bawah putrinya dan keluarganya berang. Dia tidak ingin putrinya berhubungan dengan orang yang jauh derajatnya dibawah dia. Dan saat tahu bahwa putrinya mencintai pemuda itu, dia semakin murka. Akan tetapi Sang Raja berpikir, jika ia semerta-merta menangkap si pemain mandolin, memenjarakannya di penjara bawah tanah atau bahkan memenggalnya, nama baik Sang Raja akan rusak dan akan dianggap keji. Sang Raja kemudian menitipkan Sang Putri kepada sang kesatria untuk terus berada di samping Sang Putri kapanpun untuk menjaganya.

Seperti biasa saat penampilannya si pemain mandolin menanti Sang Putri. Akan tetapi malam itu Sang Putri tidak terlihat, berganti sepucuk surat yang diantar oleh seorang pesuruh kerajaan. Satu malam. Dua malam. Satu minggu. Satu bulan. Tiga bulan. Enam bulan. Surat itu berhenti datang. Selama itu, tidak satu malam-pun si pemain mandolin berhenti menunggu untuk bertemu Sang Putri. Tapi tanpa disadari, lagu-lagu ceria si pemain mandolin berubah menjadi lagu yang berisikan kesedihan. Tidak jarang, orang-orang yang menonton menitikan air mata tanpa mereka sadari saat menyaksikan penampilan si pemain mandolin. 

Tanpa si pemain mandolin ketahui, rupanya Sang Kesatria perlahan mengambil hati Sang Putri, seiring dengan penjagaan dia dan waktu yang dia habiskan untuk mendengarkan kesedihan Sang Putri yang merindukan si pemain mandolin. Pada saat itu. Tapi perlahan seiring waktu hati Sang Putri luluh dan merasa Sang Kesatria-lah yang selalu ada di sampingnya. Kemudian tanpa disadari Sang Putri telah melupakan si pemain mandolin. Lagu-lagu yang si pemain mandolin persembahkan untuknya pun telah ia lupakan. 

Setelah beberapa waktu, mereka kemudian melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang sangat luar biasa, sangat mewah, sangat meriah. Seluruh rakyat di negara itu turut merayakan kegembiraan itu. Kecuali satu orang. Kecuali si pemain mandolin. 

Si pemain mandolin duduk menyendiri. Dia duduk sendiri di tempat dia biasa tampil. Hatinya luar biasa hancur. Dia yang sangat mencintai Sang Putri dengan seluruh hatinya. Tak sesaatpun dia berhenti menanti Sang Putri, dan betapa terkejutnya dia saat acara ini digelar. Kemudian saat puncak acara dia bergerak menuju istana. Didalamnya musik berkumandang, semua orang tertawa ceria, menari-nari kesana kemari. Dari kejauhan tampak Sang Putri dan Sang Kesatria di sebuah balkon istana, memandang ke bawah, ke arah pesta yang sedang berlangsung. 

Si pemain mandolin kemudian naik ke panggung di tengah pesta itu. Perlahan suasana menjadi sunyi. Seluruh isi istana menunggu tindakan si pemain mandolin, menunggu lagu yang hendak dimainkannya. Mereka menunggu lagu ceria yang biasa dimainkan si pemain mandolin. Dan bersuaralah petikan dari mandolin tersebut.


Akan tetapi bukan nada ceria yang terdengar. Sama sekali bukan nada ceria. Sangat jauh dari nada yang ceria. Bahkan lagu itu membuat semua orang terkejut dan menitikan air mata. Begitu sedihnya lagu itu. Bait pertama lagu itu, semua minuman dan makanan menjadi asam dan busuk. Bait kedua semua pohon layu, bahkan perlahan menyebar ke seluruh kerajaan. Bait ketiga semua air mengering hingga ke seluruh kerajaan. Dan bait terakhir lagu itu, bulan dan bintang berhenti bersinar. Seluruh kerajaan berada di dalam kegelapan. Akan tetapi seluruh tubuh si pemain mandolin bersinar. Sang Putri yang melihatnya sangat terkejut, sambil tak henti meneteskan air mata. Tak henti dia memandang pemuda yang pernah ia cintai dan kemudian melupakannya. Tidak terlihat lagi keberadaan sang Kesatria. Entah karena kegelapan atau memang dia sudah tak berada disampingnya lagi. Perlahan badan si pemain mandolin terangkat ke udara. Dia melayang. Dari tempatnya dia tersenyum kepada Sang Putri. Senyum perih. Kemudian perlahan si pemain mandolin menghilang, dari mulai ujung tangan, ujung kaki, hingga senyum perihnya yang terakhir terlihat, hilanglah keberadaan si pemain mandolin.