Sunday, April 22, 2012

Serendi-Freaky

Si perempuan berjalan sendiri di malam hari. Di tengah cahaya lampu neon dan cahaya etalase, diantara keramaian manusia yang berjalan dengan tujuannya dan segala urusannya masing-masing. Semua cahaya dan lalu lalang orang itu hanya tampak seperti gambar buram baginya.

Si perempuan terus berjalan tanpa tujuan. Saat ini dia merasa hatinya hancur, sudah tak ada harapan, orang yang dia sayangi sepenuh hatinya telah membuangnya. Saat ini hidupnya telah berakhir pikirnya. Dia tak ingin kembali ke kamarnya, malas mendengar teman sekamarnya yang selalu menyalahkan kebodohannya karena memilih kekasih yang salah. Hidup adalah waktu yang terbuang sia-sia pikirnya. Segala makian berkecamuk di kepalanya. Tak ada lagi yang berarti baginya, dan di pikirannya hanya 'Mati' yang sepertinya menarik.

Si Perempuan terus berjalan hingga mendekati tengah malam. Tak sadar dia melalui perempatan jalan, saat puluhan kendaraan melaju kencang seiring dengan lampu hijau traffic light yang menyala. Saat itu pula Laki-laki ini berlari kencang untuk menariknya kembali ke trotoar, hingga mereka berdua jatuh terduduk di trotoar.

Si laki-laki berteriak kepada si perempuan, apakah dia gila atau bodoh. Si perempuan hanya tertawa sambil meneteskan air matanya, hingga menjadi tontonan orang sekitarnya. Si laki-laki dengan kesal pergi meninggalkan si perempuan. Tak tau apa yang ada di pikirannya, si perempuan bergegas mengikuti langkah laki-laki itu, hingga tepat di belakangnya.

Sambil mendengus, laki-laki itu bertanya apa mau perempuan itu. Si perempuan tidak menjawab, hanya terus mengikuti langkah laki-laki itu. Kemudian laki-laki itu memutuskan untuk duduk di bangku luar cafe yang saat itu sudah tutup. Si perempuan duduk disampingnya. 

Si laki-laki bertanya, kenapa si perempuan mengikutinya. Si perempuan menjawab dia tidak tahu, tapi bagaimanapun si laki-laki telah menyelamatkan nyawanya. Dia hanya bergerak, dan dia tidak berpikir. Saat ini dia hanya merasa aman ada disamping si laki-laki. 

Mereka kemudian mengobrol di tempat itu. Entah bagaimana, tapi mereka merasa nyaman berbagi cerita dan segala masalah mereka. Ternyata mereka sama-sama baru saja ditinggalkan oleh pasangan mereka. Mereka merasa sakit dan hancur. Menit demi menit, jam demi jam, mereka terus berbicara, hingga sinar pagi sedikit demi sedikit mengganti gelap. Dini hari berubah menjadi pagi, satu demi satu lampu-lampu mulai mati. Di pagi hari mereka dapat menertawakan air mata dan kesedihan mereka semalam. Senyum dan tawa mereka bermunculan di pagi ini. Di hangatnya pagi, mereka berpisah. Mereka sudah siap memulai sesuatu yang baru.
Kemudian hari berganti malam. Si perempuan berjalan dengan ringan. Senyum lebar tersungging di wajahnya. Si perempuan melewati jalan yang sama yang kemarin malam dia lewati. Pancaran lampu neon, etalase dan kerumunan orang yang melewatinya nampak semarak, membuat senyumnya terpancar lebih lebar lagi. Sambil berjalan, si perempuan bahkan bernyanyi-nyanyi kecil.

Hingga si perempuan tiba di perempatan saat dia diselamatkan si laki-laki. Terdiam dia di tempat itu sambil tersenyum. Si perempuan berdiri terdiam di tempat itu. Terdiam si perempuan bediri di tempat itu. Masih si perempuan terdiam berdiri di tempat itu. Perlahan senyumnya terasa berat, dan perlahan menghilang. Lama dia berdiri terdiam.

Perlahan dia melangkah. Dia melangkah di arah yang sama yang dia lalui semalam. Dengan lambat dia terus melangkah hingga tiba di tempat duduk yang sama kemarin malam. Duduklah si perempuan di tempat yang sama dengan kemarin malam. Terdiam si perempuan di tempat yang sama. Masih si perempuan duduk di tempat yang sama. Masih si perempuan duduk di tempat yang sama. Lama si perempuan duduk di tempat yang sama. 

Kemudian dia memandang jembatan yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Perlahan si perempuan berjalan ke jembatan itu. Terdiam si perempuan memandang tempat parkir yang ada tepat di bawah jembatan itu. Si perempuan kemudian duduk di pinggiran jembatan itu. Kemudian si perempuan merentangkan kedua tangannya. Lebar dia merentangkan tangannya. Kemudian dia meloncat dari jembatan itu. Tidak ada tangan yang menariknya kembali ke atas jembatan. Tidak ada yang tiba-tiba muncul menyelamatkannya. Dan saat kepala si perempuan menghantam aspal tempat parkir itu, senyumnya sudah tidak dapat mengembang lagi. Sendiri dia terdiam di tempat parkir itu.

Di saat yang sama si laki-laki sedang menyesap kopi panasnya, menikmati malam, saat semua kesedihannya telah dia tinggalkan dibelakangnya.

Friday, April 20, 2012

C'est la Vie

Selalu ada cerita dibalik cerita, alasan kenapa begini begitu. Penilaian orang terhadap sesuatu pasti berbeda. 

Saat seseorang mendambakan sesuatu dengan sangat menggebu, orang yang telah memiliki hal itu mungkin menganggap biasa saja. Saat seseorang mencapai sesuatu, orang yang lain mungkin saja menganggap bahwa itu adalah hal yang lumrah dan biasa saja.

Kebanggaan seseorang akan sesuatu dapat dianggap biasa saja bagi orang yang lain, atau juga mungkin hanya menjadi sebuah kesombongan.

Saat satu orang menganggap hidup itu indah dan berharga, orang yang lain bisa saja menganggap bahwa hidupnya tidak pernah cukup, dan selalu diselimuti masalah dan kesulitan.

Seseorang mungkin melihat segala di sekitarnya menarik dan menyenangkan, akan tetapi orang yang lain mungkin melihat bahwa segala disekitarnya membosankan, sehingga masalah bisa menjadi suatu kebutuhan dan hiburan yang dapat dinikmati dari waktu ke waktu.
Saat seseorang melihat suatu hal begitu indah, orang yang lain bisa saja berkata hal tersebut buruk, mengganggu bahkan menakutkan.

Saat seseorang merasa selalu benar, orang yang lain mungkin merasa selalu salah.

Seseorang melakukan sesuatu untuk mengisi waktu, orang yang lain mungkin menganggap perbuatan tersebut adalah membuang waktu.

Seseorang dapat mencintai sesuatu, tapi orang yang lain dapat membenci hal itu.

Seseorang dapat hidup dan orang yang lain mati.

C'est la Vie